Kazakhstan Diklaim Runtuhkan Harga Bitcoin, Mengapa?

Keadaan yang tidak terkendali di Kazakhstan membuat harga bitcoin ambruk.

Bitcoin. (Ilustrasi: int)

Cryptoindonesia.id – Aksi demo yang terjadi di Kazakhstan yang terjadi hari Selasa hingga Kamis membuat 200 orang ditangkap dan 8 orang meninggal.

Presiden Kassym-Jomart Tokayev, meminta bantuan militer aliansi Rusia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), yang berisi lima negara bekas Uni Soviet. Moskow diketahui sudah mengirimkan bantuan ke sana.

“Ini adalah perusakan integritas negara dan yang paling penting ini adalah serangan terhadap warga kami yang meminta saya untuk segera membantu mereka,” kata Tokayev dikutip AFP.

Kazakhstan menjadi penambangan Bitcoin terbesar kedua di dunia itu terancam mati total. Kondisi ini dapat mengancam proses penambangan Bitcoin di dunia.

Harga bitcoin juga tergerek turun, per hari ini Per pukul 10:30 WIB, harga Bitcoin pun melemah 1,25% ke level harga US$ 42.992,87 per koin atau setara dengan Rp 617.377.613 per koinnya.

Seperti diketahui, Kazakhstan menjadi negara penambang bitcoin nomor dua di dunia pasca ekssodus besar-besaran warga China ke negara itu. Namun selama berbulan-bulan menambang migran kripto ini mendirikan toko, protes atas lonjakan harga bahan bakar telah berubah menjadi kerusuhan terburuk yang pernah dilihat negara itu dalam beberapa dekade.

Kassym-Jomart Tokayev memerintahkan bagi penyedia telekomunikasi negara itu untuk menutup layanan internet. Alhasil, sekitar 15% penambang Bitcoin dunia offline dan mereka tidak bisa melakukan penambangan.

Awal mula negara ini menjadi ladang tambang bitcoin, karena  Beijing menindak tegas segala bentuk transaksi terkait kripto pada Mei 2021, para penambang kripto terpaksa pindah ke negara yang lebih ramah terhadap meraka dan aktifitas mereka. Kazakhtan dinilai memenuhi kriteria keramahan menurut para penambang kripto.

Pusat Keuangan Alternatif Cambridge, melaporkan posisi Kazakhstan di pangsa pasar penambangan Bitcoin berada tepat di belakang Amerika Serikat (AS), yakni sebesar 18,1% dari semua penambangan kripto di dunia.

Disisi lain, dari segi keamanan dan iklim politik, negara ini terbilang sangat rentang, hal itu yang tidak dipikirkan oleh para penambang sejak awal.

Pun secara teknologi, AS telah cocok menjadi kiblat penambangan kripto, karena Negeri Paman Sam merupakan rumah bagi beberapa sumber energi termurah di planet ini, bahkan energinya juga cenderung sudah terbarukan.

Analis, Alex Brammer dari Luxor Mining mngatakan, Kazakhstan hanyalah tempat transit sementara para penambang kripto.

“Tetapi ketika mesin generasi yang lebih tua mencapai akhir masa pakainya, perusahaan-perusahaan tersebut kemungkinan akan menggunakan mesin baru ke yurisdiksi yang lebih stabil dan hemat energi serta terbarukan,” kata Brammer.

Sumber: CNBC Indonesia

Follow Twitter
Exit mobile version