Mengenal Perbedaan Ethereum dan Ethereum Classic

Mengenali perbedaan serta asal mula perpecahan Ethereum dan Ethereum Classic

Ethereum dan Ethereum Classic. (Foto: int)

Cryptoindonesia.id – Bila mendengar kata Ethereum, sebagian orang sepertinya sudah akrab dengan kata tersebut. Namun, beda lagi dengan Ethereum Classic (ETC) yang mungkin masih terdengar baru bagi sebagian orang.

Ternyata, selain memiliki nama yang sama, kedua aset ini juga memiliki kisah menarik dan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam semua sejarah aset kripto.

Penjelasan mengenai perbedaan Ethereum dan Ethereum Classic dapat dilihat pada artikel di bawah ini.

Ethereum

Apa Itu Ethereum?

Ethereum adalah platform blockchain terbesar kedua setelah Bitcoin berdasarkan kapitalisasi pasar. Dibanding Bitcoin, Blockchain Ethereum lebih unggul dan jauh lebih cepat dalam mengolah transaksi yakni dapat mengelola 30 tps (transaction per second), sementara Bitcoin hanya sanggup mencapai 7 tps.

Ethereum juga pelopor dari smart contract. Ethereum tidak hanya diciptakan sebagai aset kripto, namun juga sebagai pusat desentralisasi. Pasalnya, Ethereum dapat berperan sebagai platform aplikasi yang bersifat terdesentralisasi, atau yang biasa disebut dengan decentralized applications (Dapps). Selain itu, Ethereum juga memiliki decentralized finance (DeFi) dan juga non-fungible token (NFT) yang belakangan ini tengah naik daun.

Dari kedua fitur tersebut, memudahkan pengguna untuk dapat menerbitkan, monetisasi, dan menggunakan aplikasi terdesentralisasi melalui Ethereum, dan menggunakan koin ETH sebagai metode pembayarannya.

Keunggulan dan Kekurangan Ethereum

Salah satu keunggulan utama dari Ethereum adalah popularitasnya. Ethereum berhasil memiliki kapitalisasi pasar senilai 350 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 5.016 triliun berdasarkan data CoinMarketCap.

Tak hanya itu, Ethereum dikenal sebagai lebih dari sekadar aset kripto lantaran mendukung smart contract, Dapps, dan banyak proyek DeFi.

Ethereum dapat digunakan di berbagai sektor (misalnya, gim, keuangan, dan distribusi energi), serta dapat mendorong tokenisasi seni (seperti NFT), riwayat pemungutan suara, verifikasi ID, koleksi kripto, dan perjanjian kompleks lainnya.

Ethereum memang hari dengan sejumlah keuntungan, namun tetap saja sebuah aset kripto tak terlepas dari satu risiko. Berbeda dengan Bitcoin yang memiliki satu fungsi tunggal yakni sebagai aset kripto, Ethereum yang bertindak sebagai ledger, platform untuk smart contract, dan sebagainya, dapat berpotensi memunculkan bug, kerusakan platform, dan peretasan.

Ethereum Classic

Apa Itu Ethereum Classic?

Ethereum Classic (ETC) adalah sebuah blockchain platform yang berbasis open-source, terdesentralisasi, yang menjalankan smart contract. Ethereum Classic terbentuk pada tahun 2016 sebagai dampak dari peretasan jaringan. Blockchain Ethereum asli terbagi dua, yaitu Ethereum Classic yang adalah Ethereum asli dan Ethereum yang merupakan blockchain versi terbaru.

Keunggulan dan Kekurangan Ethereum Classic

Ethereum Classic, sama seperti aset kripto lainnya, bersifat terdesentralisasi dengan node yang tersebar di seluruh dunia. Artinya, pembayaran dan transaksi dilakukan tanpa harus bergantung pada pihak ketiga atau pemerintah yang membatasi.

Perusahaan blockchain Charles Hoskinson, Input Output Hong Kong (IOHK), yang juga mengembangkan Cardano, saat ini berada di balik sebagian besar pengembangan Ethereum Classic. Sejak mereka mulai mengerjakan proyek tersebut, IOHK telah memperkenalkan Mantis, klien asli yang ditulis untuk Ethereum Classic. Tujuannya adalah untuk mengurangi serangan peretasan dan meningkatkan keamanan.

ETC sempat mengalami kehilangan nilai yang besar setelah bull run pada Mei 2021. Namun, nilai ETC masih jauh lebih tinggi daripada di awal tahun dan sebagian besar keberadaannya. ETC dimulai tahun 2021 di level sekitar 5,72 dolar AS, kemudian mencapai all-time high di angka 176,16 dolar AS pada tanggal 6 Mei 2021.

Saat artikel ini ditulis, harga Ethereum Classic (ETC) to IDR berada di Rp663 ribu, yang hampir sepuluh kali lebih tinggi dari pada awal tahun. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa harga ETC berpotensi akan terus naik.

Dari sejumlah keuntungan yang ditawarkan ETC, tetap saja terlepas dari satu risiko. Ethereum Classic telah mengalami penurunan kepercayaan akibat berbagai 51% attack. Salah satu kasus 51% attack pada Ethereum Classic yang paling populer pada tahun 2019 dan membuat Coinbase menghentikan sementara transaksi ETC. Kemudian pada Agustus 2020, Ethereum mengalami tiga 51% attack.

Dengan bantuan IOHK, Ethereum Classic dapat mengatasi tingkat keamanannya. Akan tetapi, apabila serangan lain terjadi lagi pada saat ini setelah semua perubahan keamanan, maka serangan tersebut bisa menjadi akhir dari ETC.

Awal Perpecahan Ethereum dan Ethereum Classic

Ada satu momen paling penting dalam perpecahan Ethereum vs Ethereum Classic berkaitan dengan organisasi yang dikenal sebagai Decentralized Autonomous Organization (DAO) yakni Ethereum Hard Fork. Pada dasarnya, DAO merupakan semacam modal ventura atau hedge fund terdesentralisasi yang akan mendanai Dapps yang dibangun di atas ekosistem Ethereum.

DAO diklaim sebagai cara yang tepat untuk mendorong investasi terdesentralisasi. Namun, terdapat beberapa kelemahan signifikan yang akhirnya akan menyebabkan kehancuran Ethereum. Kelemahan utama yang dimiliki DAO adalah “Split Function,” yang dibuat sebagai cara untuk memudahkan investor menarik dukungan mereka dari sebuah proyek.

Setelah pengguna memutuskan untuk menarik investasi, pengguna akan mendapatkan kembali sejumlah token Ethereum dan memiliki opsi untuk membuat “Child DAO.” Namun sayangnya, “Split Function” ini mengungkap celah raksasa dalam sistem DAO.

DAO berhasil mengumpulkan sekitar 150 juta dolar AS atau Rp2,1 miliar melalui crowdfunding, namun DAO ternyata memiliki sejumlah masalah keamanan yang serius. Struktur di belakang DAO masih belum aman dari tindak pencurian. Pada 17 Juni 2016, beberapa orang tak dikenal mengambil sekitar 50 juta dolar AS dari hasil crowdfunding. Kondisi ini pun sangat merusak reputasi Ethereum dan membuat tim harus bergerak cepat untuk menebus kesalahan tersebut.

Akhirnya, banyak yang berpendapat bahwa blockchain seharusnya tidak dapat diubah, sehingga karenanya tak ada yang harus dilakukan.

Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya Ethereum melakukan pemungutan suara. Hasilnya, didapatkan bahwa tindakan terbaik adalah melakukan hard–fork dan mengembalikan semua pemegang token yang terpengaruh dari pencurian tersebut.

Hal tersebut yang menciptakan perpecahan Ethereum Classic sebagai chain asli, dengan token yang secara tak terduga diambil dari DAO yang tidak tersentuh oleh pencuri uang tersebut. Di sisi lain, Ethereum adalah chain yang berperan untuk mengembalikan token.

Perbedaan Ethereum dan Ethereum Classic

Ethereum Classic (ETC) berjalan pada protokol yang sama melakukan fungsi yang sama, tetapi memiliki beberapa perbedaan yang berbeda dalam komunitasnya. Sekitar 10 persen orang-orang yang mengetahui atau berasal dari Ethereum asli cenderung dalam bayang-bayang dan setia pada konsep immutable ledger. ETC pada dasarnya dapat memiliki nilai karena pasar spekulan, sama halnya altcoin lainnya.

Sementara Ethereum (ETH), lebih seperti perusahaan perangkat lunak yang ingin tumbuh dan mungkin memiliki lebih banyak hard-fork di masa depan. Para pemimpin komunitas ETH jauh lebih bersifat publik dibandingkan mereka yang ada di dunia ETC. ETH memiliki nilai karena campuran pasar spekulan, tetapi lebih karena penggunaan use case dan dukungan komunitas yang terdiri dari perusahaan bernilai miliaran dolar seperti Accenture, JP Morgan, Microsoft, dan UBS.

Sumber: zipmex

Exit mobile version