Ini Penyebab Harga Bitcoin Naik Turun

Investor baru mungkin bakal bingung bila melihat harga Bitcoin yang naik turun. Lantas apa penyebab harga Bitcoin seperti itu?

Bitcoin. (Foto: int)

Cryptoindonesia.id – Bagi investor baru ataupun masyarakat biasa bakal merasa heran bila melihat harga Bitcoin yang mungkin hari ini berbeda dengan hari kemarin.

Harga Bitcoin akan naik secara tajam dalam hitungan beberapa jam, namun harganya pun akan terjun bebas juga dalam hitungan beberapa jam. Hal itu dipengaruhi beberapa faktor. Faktor itulah yang akan kita bahas kali ini. Berikut pendapat para ahli mengapa harga Bitcoin begitu sangat fluktuatif.

1. Adopsi Bitcoin

Salah satu ahli dunia cryptocurrency, Taylor Tepper dari Forbes mengungkapkan bahwa salah satu penyebab harga Bitcoin fluktuatif adalah tingkat adopsinya di masyarakat dan industri. Banyaknya perusahaan dan instansi yang mengadopsi Bitcoin ikut memberikan dampak positif pada nilainya.

Di tahun ini, harga Bitcoin beberapa kali mengalami fluktuasi yang positif setelah BNY Mellon dan Fidelity mengumumkan bahwa mereka akan membuka akses crypto untuk klien, Mastercard memfasilitasi transaksi Bitcoin, ditambah El Salvador menjadi negara pertama yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah dan banyak lagi.

2. Harga Bitcoin di Masa Depan Tidak Bisa Diprediksi

Penulis finansial, Reiff, yang berpengalaman lulusan Yale University membeberkan bahwa salah satu penyebab harga Bitcoin fluktuatif adalah adanya berbagai persepsi tentang nilai intrinsik aset crypto sebagai penyimpan nilai dan metode transfer nilai.

Meski menjanjikan sebagai metode transfer nilai yang efektif, investor masih ragu dan memandang Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai dengan masa depan yang belum pasti seiring dengan perubahan sentimen dan regulasi pemerintah.

3. Karakter Investor

Berbeda dengan investasi real estate yang memerlukan modal cukup besar untuk mulai berinvestasi, investor crypto bisa terjun dan bertransaksi hanya dengan bermodal akses ke internet dan sejumlah dana yang tidak terlalu besar.

Maxim Manturov, Kepala Penelitian Investasi di Freedom Finance Eropa menyatakan bahwa semakin banyak investor pemula dengan sedikit pengalaman yang masuk ke pasar crypto dan menyebabkan nilai Bitcoin semakin fluktuatif.

Mengapa demikian?

Selama periode FUD (Fear, Uncertainty, Doubt), investor berpengalaman biasanya akan tetap tenang. Sementara itu, pendatang baru akan cenderung panik dan tergesa-gesa untuk menjual asetnya. Akibatnya, pergerakan investor dalam jumlah besar akan mempengaruhi harga Bitcoin.

4. Permintaan vs Pasokan

Ofir Beigel dari Bitcoins melaporkan bahwa salah satu penyebab naik turunnya harga Bitcoin adalah ketersediaan pasokan dari aset itu sendiri. Pasokan Bitcoin yang dibatasi hanya pada 21 juta BTC menyebabkan jumlah permintaan Bitcoin yang meningkat tidak bisa dipenuhi karena jumlah penawaran yang terbatas.

5. Komentar Tokoh dan Berita

Sama seperti beberapa aset investasi lain, nilai Bitcoin juga dipengaruhi oleh berita-berita yang beredar di media. Nathan Reiff dari Investopedia mengemukakan bahwa berita buruk seputar Bitcoin dapat memicu kepanikan publik dan menurunkan kepercayaan investor. Akibatnya, nilai Bitcoin bisa turun drastis dalam waktu singkat.

Primavera De Filippi, penulis dan asosiator fakultas di Berkman Klein mengatakan bahwa Bitcoin dan aset crypto lainnya relatif cukup rentan terhadap komentar publik dari tokoh berpengaruh. Mei lalu, nilai Dogecoin turun dalam waktu singkat hanya setelah munculnya komentar bercanda Elon Musk di “Saturday Night Live”.

6. Penjualan Bitcoin di Pasaran

David McNeal dari The Crypto Writer mengungkapkan bahwa jumlah Bitcoin yang sedang dijual di pasaran biasanya juga akan berpengaruh pada harga jualnya. Semakin banyak Bitcoin yang dijual, nilainya akan turun secara bertahap. Begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, di mana semakin banyak jumlah penawaran sementara jumlah permintaan tetap, maka harga aset relatif akan turun.

Misalnya, dalam kasus ketika FBI atau otoritas tertentu menyita sejumlah besar Bitcoin dari operasi ilegal, mereka akan melelangnya ke publik. Untuk memperoleh keuntungan maksimal, mereka akan menjualnya di bawah harga pasar. Alhasil, harga Bitcoin di pasaran akan ikut turun.

7. Aturan Pemerintah

Ria Bhutoria, mantan direktur penelitian di Fidelity Digital Assets mengungkapkan bahwa volatilitas Bitcoin adalah konsekuensi dari pasar bebas distorsi. Jaringan terdesentralisasi membuat tidak adanya otoritas pusat seperti pemerintah atau bank sentral yang dapat mengelola dan menopang pasar. Alhasil, nilainya menjadi fluktuatif.

Namun, belakangan ini, regulasi mengenai Bitcoin terlihat mulai disusun oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang menetapkan bitcoin sebagai aset yang boleh diperdagangkan, begitu pula dengan aset crypto lain yang telah terdaftar resmi di Bappebti.

 

Sumber: Pintu

Exit mobile version