Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Sebut Kripto Tak Penuhi Syarat Mata Uang

Menurutnya, kripto lebih condong ke aset dibanding mata uang

Ilustrasi Crypto di Afrika Selatan. (Foto: shutterstock)

Cryptoindonesia.id – Lesetja Kganyago, Gubernur South African Reserve Bank (SARB) menyebut cryptocurrency lebih mirip dengan aset daripada mata uang sebenarnya.

Pendapat bankir top asal Afrika Selatan ini dilontarkan saat menghadiri pertemuan di Wits Business School Leadership Dialogues. Menurutnya cryptocurrency hanya memenuhi dua dari tiga kriteria mata uang.

“Cryptocurrency adalah penyimpan nilai. Ini adalah media pertukaran, tetapi tidak diterima secara umum. Itu hanya diterima oleh mereka yang berpartisipasi di dalamnya,” nilainya.

Pendapat Kganyago dan beberapa aktor lain di Afrika Selatan tidak lepas juga dari sistem keuangan warisan terhadap Bitcoin (BTC) dan cryptocurrency.

Namun saat ini, perkembangan kripto di dunia sangat berkembang pesat dan banyak kalangan menerimanya sebagai alat alat pembayaran, terutama di pasar ritel. Seperti di El Salvador yang menjadikan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Langkah El Salvador dinilai berani dan bisa di contoh negara lain, bahkan beberapa negara di Amerika Tengah menjajaki hal yang sama dengan El Salvador.

Pun dengan jaringan pembayaran kartu seperti Visa dan Mastercard juga mulai memasukkan opsi pembayaran kripto dalam sistem mereka. Mengingat adopsi cryptocurrency yang makin meluas.

Sebelumnya, Kganyago mengungkapkan bank sentral ingin mengatur pasar kripto untuk melindungi investor. Bisnis kripto di negara penghasil emas terbesar di dunia dinilai tidak aman sehingga akan merugikan industri cryptocurrency lokal .

Beberapa kasus penipuan hingga pencucian uang kerap terjadi yang mengakibatkan kerugian jutaan dollar.

Pada bulan Juli lalu, operator perusahaan crypto Afrika Selatan AfriCrypt dilaporkan melarikan diri menyusul hilangnya $3,6 miliar Bitcoin dari pundi-pundi perusahaan. Mirror Trading International, skema Ponzi crypto terkenal lainnya, telah menarik perhatian internasional, dengan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat berpartisipasi dalam penyelidikan.

Kganyago juga membeberkan bahwa bank sentral tertarik pada blockchain dan SARB bereksperimen dengan teknologi baru. Dilansir Cointelegraph, SARB memulai studi pendahuluan tentang kemungkinan mata uang digital bank sentral ritel pada bulan Mei kemarin.

 

Sumber: cointelegraph.com

 

Sumber: cointelegraph.com

Follow Twitter
Exit mobile version